Setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkan pendidikan yang layak dan bermutu, siapapun dia dan darimanapun asalnya. Seperti halnya sebuah tunas yang butuh air dan cahaya matahari yang cukup untuk menjadi pohon yang besar dan kuat. Anak-anak di pedesaan seharusnya memiliki kesempatan yang sama untuk menikmati layanan dan akses pendidikan yang bermutu serta dididik oleh guru dan tenaga pendidik yang berkualitas. Faktanya sampai saat ini kesenjangan mutu pendidikan antar daerah-daerah di Indonesia masih terjadi, mutu pendidikan anak-anak di daerah pelosok seperti di Kecamatan Hu’u tidak seideal mutu pendidikan di kota-kota besar dimana peralatan penunjang pendidikan serba ada dan berkecukupan. Kecamatan Hu’u sebenarnya sangat beruntung karena banyak program-program mitra pendidikan yang bekerja sama dengan sekolah-sekolah di kecamatan hu’u untuk meningkatkan kualitas dan mutu pendidikan. Salah satu program tersebut adalah INOVASI-SLI, sebuah program yang bertujuan untuk meningkatkan performa sekolah yang berbasis Literasi.
Dalam program INOVASI-SLI di kecamatan Hu’u
saya diberikan tugas untuk menjadi fasilitator daerah yang bertugas untuk
mengembangkan mutu pendidikan dengan memberikan pelatihan, sharing, mentoring
dan coaching serta menjadi pendamping sekolah dalam menjalankan program. Saya sangat bersyukur bisa terlibat langsung
dalam program ini, karena dengan program ini saya bisa mengenal dan memahami
kondisi pendidikan di daerah kelahiran saya dengan ikut mengambil bagian
menyelesaikan sedikit banyaknya tumpukan persoalan ketimpangan pendidikan di
daerah. Saya menyaksikan sendiri betapa
anak-anak memiliki semangat untuk belajar, guru-gurunya yang masih setia
mengabdi ditengah carut-marutnya persoalan nasib guru yang melanda negeri ini.
Bukan persoalan bekerja semata, kesempatan yang luar biasa ini benar-benar saya
manfaatkan untuk belajar dan mengenal wajah pendidikan di daerah. Saya berupaya
sekeras tenaga untuk membagi ilmu dan pengalaman yang saya miliki guna
mengakselerasi kemajuan pendidikan. Kami tidak datang untuk langsung
menyelesaikan persoalan pendidikan yang terjadi, akan tetapi kehadiran kami
sebagai alternatif solusi dalam memberikan semangat dan dorongan kepada
guru-guru dan kepala sekolah untuk mengembangkan potensi yang mereka miliki.
Fokus
utama dalam program INOVASI-SLI adalah Literasi dan leadership, kedua aspek ini
yang terus kami kembangkan di sekolah dampingan. Konsep dasar literasi dan
kondisi Literasi di Indonesia telah kami jelaskan pada awal program,
selanjutnya kami memberikan pelatihan kelas literasi terpadu dan menjelaskan
penerapannya di sekolah. Literasi bukan untuk diajarkan tetapi dibudayakan, budaya
tersebut tidak hanya dibangun dalam diri anak-anak namun juga kepala sekolah
dan guru. Pertanyaanya adalah kapan terakhir kita membaca buku ? berapa banyak
buku yang kita baca dalam sebulan ? Bagaimana kondisi minat baca kita ? dan
masih banyak pertanyaan-pertanyaan lainnya yang perlu kita refleksikan bersama.
Berbicara mengenai minat baca tidak terlepas dari kemampuan membaca, di
kecamatan Hu’u tidak banyak anak-anak yang lancar membaca baik di kelas tinggi
lebih-lebih di kelas rendah. Hal tersebut terjadi karena lingkungan membaca di
sekolah dan di rumah masih sangat terbatas, guru dan orang tua harus memusatkan
perhatian penuh kepada anak-anak agar memiliki hobby membaca. Bebaskan
anak-anak untuk membaca apapun dan dimanapun yang mereka suka, jangan memaksa
mereka hanya membaca buku-buku pelajaran yang kebanyakan membuat mereka merasa
cepat bosan dan jenuh.
Untuk mengatasi rendahnya kualitas Literasi di
Kecamatan Hu’u, program INOVASI-SLI melakukan berbagai macam langkah perbaikan
salah satunya adalah setiap sekolah dampingan harus membuat program kekhasan
literasi di Sekolah masing-masing berdasarkan kebutuhan dan peluang sekolah.
Program kekhasan Literasi tersebut harus benar-benar dilaksanakan dan
dibudayakan di sekolah sebagai usaha meningkatkan kemampuan literasi siswa dan
guru. Salah satu program kekhasan literasi tersebut adalah Program SADAR
Literasi yang di gagas oleh SDN No. 12 Hu’u. Program ini mengandung muatan
kegiatan yang bertujuan untuk membangun budaya baca dan meningkatkan kemampuan membaca
siswa. Untuk mendukung efektifitas pelaksanaan program Sadar Literasi, SDN No.
12 Hu’u melakukan pemilihan duta perpustakaan sebagai apresiasi bagi siswa yang
rajin dan gemar membaca. Hal ini diterapkan untuk melatih karakter Disiplin dan
rajin anak-anak, supaya mereka menjadi terbiasa dan kecanduan untuk membaca.
Jika praktek-praktek baik ini konsisten dilaksanakan serta budaya literasi
sudah mendarah daging dan menjadi kebutuhan bagi mereka, maka akan terlahir
peradaban baru yang akan mengangkat harkat dan martabat masyarakat kecamatan
Hu’u. Dari yang selama ini hanya puas menjadi anak petani dan nelayan, ke
depannya bisa menjadi anak-anak yang berprestasi dan membanggakan.
Berbicara
masalah prestasi, salah satu anak SDN No. 12 yang bernama Muhammad Ghajali
sudah dinyatakan lolos beasiswa SMART Ekselensia Indoensia tahun 2019 dan
sekarang sedang melanjutkan sekolah di SMP SMART ekselensia Indoensia di Bogor.
Gajali merupakan satu-satunya anak yang dinyatakan lolos dari delapan anak yang
kami (FASDA) daftarkan di kecamatan Hu’u. Dengan melihat prestasi yang diraih
oleh Gajali, Pak Said selaku kepala sekolah berkomitmen untuk meningkatkan
kemampuan literasi siswa sebagai persiapan untuk mendaftar lagi tahun depan. “Pak Rustam, di kelas V ini banyak
siswa-siswa yang kemampuan literasinya bagus, jadi saya berencana untuk
mendaftarkan lagi mereka tahun depan supaya SDN No. 12 bisa dikenal
dimana-mana” ungkapkanya sambil tertawa riang. Sayapun sangat menyambut
positif niat baik beliau “boleh pak boleh,
yang penting dipersiapkan mulai dari sekarang pak, biar lebih matang nanti pada
saat mendaftar” jawab saya. Pada awalnya orang tua Gajali juga sempat
was-was karena harus jauh dari anaknya yang masih kecil, “Saya takut Gajali nakal disana pak, saya takut dia tidak mampu
mengikuti cara belajar teman-temannya yang lain” ungkapnya dengan nada
was-was. “Banyak berdoa saja bu untuk
kebaikan Gajali disana, insyaAllah Gajali akan baik-baik saja” jawab saya,
mencoba memberikan pengertian kepada beliau.
Kisah
Gajali dan cerita positif SDN No. 12 Hu’u diatas adalah sepenggal harapan bahwa
di ujung-ujung tersulit negeri ini, di tengah carut marutnya persoalan kebangsaan
masih ada setitik cahaya dari ujung selatan NTB yang akan menyinari masa depan
bangsa ini. Program INOVASI-SLI membawa
sejuta harapan dan memberikan warna baru bagi pendidikan di kecamatan Hu’u.
Guru-guru dan kepala sekolah sudah mulai memahami hal-hal yang harus dilakukan
untuk meningkatkan preforma sekolah yang berbasis Literasi, namun semuanya
kembali ke warga sekolah masing-masing konsisten atau tidaknya menjalankan
program. Saya pribadi selaku fasilitator daerah merasa sangat tertantang dalam
mengembangkan dan membangun kesadaran guru-guru, karena bukan hal yang mudah
untuk mengubah perilaku dan pola pikir orang lain, butuh kesabaran dan
kebesaran hati untuk melakoninya. Namun
saya meyakini bahwa ketika kita tidak mampu mengubah orang lain setidaknya kita
mampu merubah diri kita sendiri. Terima kasih program INOVASI-SLI telah
memberikan kesempatan kepada saya untuk terus belajar dan mengebangkan diri
dalam pengembangan pendidikan.
Komentar
Posting Komentar