Sekolah
Literasi Indonesia (SLI) merupakan salah satu bagian dari Makmal Pendidikan
Dompet Dhuafa yang dirancang khusus untuk mewujudkan sekolah berbasis literasi
yang berkonsentrasi pada peningkatan performa sekolah melalui sistem
istruksional (Pembelajaran) dan Budaya Sekolah. Program Sekolah Literasi
Indonesia (SLI) di Dompu tepatnya di Kecamatan Hu’u merupakan salah satu
program kemitraan dari Inovasi NTB, program ini berjalan mulai dari bulan
Oktober 2018 sampai dengan Juli 2019 dengan melakukan pendampingan di 8 SDN dan
2 MI di Kecamatan Hu’u Kabupaten Dompu. Pendamping sekolah dalam program
SLI-Inovasi ini disebut sebagai fasilitator daerah atau akrab dipanggil FASDA
yang terdiri dari tiga orang di kecamatan Hu’u.
Adapun
6 keungguulan dari program SLI-Inovasi ini adalah Kecakapan Literasi,
Efektifitas Pembelajaran, Kepemimpinan Instruksiaonal, Lingkungan Belajar yang
Kondusif, efektifitas manajerial dan pembiasaan karakter siswa dan guru. Dalam
pelaksanaannya Fasilitaor Daerah tidak bisa berjalan sendiri untuk mencapai
tujuan yang diharapkan, terdapat banyak tantangan yang harus dipecahkan bersama
dan ini sekiranya menjadi PR dan tanggung jawab bersama oleh semua pihak bukan
saja pihak Sekolah dan guru namun perlu adanya gerakan kolektif dan kolaboratif
untuk meningkatkan performa pendidikan di Daerah.
Pada
umumnya Sekolah-sekolah di pedesaan belum terlalu memahami tentang apa itu
LITERASI walaupun pada tahun 2016 sebenarnya pemerintah dalam hal ini
Kementrian Pendidikan dan kebudayaan telah menggiatkan Gerakan Literasi
Nasional (GLN). Pemahaman Kepala Sekolah, guru dan masyarakat di pedesaan tentang
literasi masih dalam seputaran budaya baca bahkan berdasarkan kondisi realitas
yang Fasda temui di lapangan, pada awal-awal program masih banyak guru-guru
yang tidak memahami sama sekali tentang apa itu Literasi. Namun seiring
berjalannya program dan setelah dilakukan pendampingan secara berkala, kepala
sekolah dan guru-guru sudah mulai memahami tentang literasi dan cakupannya,
bahkan di setiap sekolah didampingi untuk membuat kekhasan sekolah yang
berbasis Literasi.
Berangkat
dari kondisi realitas tersebut, fasilitator daerah (FASDA) terus melakukan
pendampingan terutama dalam peningkatan kualitas sistem pembelajaran dan budaya
sekolah yang berbasis Literasi. Sebelum melakukan pendampingan, di awal program
FASDA melakukan pengukuran performa sekolah dan melakukan pemetaan masalah
serta penyusunan program perbaikan dalam bentuk SSD (School Strategic Discussion) dengan seluruh warga sekolah. Setiap
sekolah memiliki permasalahan dan tantangan yang berbeda-beda yang kemudian
dirancanglah program-program perbaikan sebagai alternatif solusi.
Literasi
dan leadership merupakan fokus utama dalam program SLI-Inovasi, oleh karena itu
selama pelaksanaan program ini banyak kegiatan yang telah dilaksanakan oleh
kepala sekolah dan guru-guru dalam mengembangkan profesionalime dan kecakapan
literasi. Saat ini Program SLI-Inovasi sudah memasuki bulan ke-4, dalam kurung
waktu tersebut adapun kegiatan-kegiatan yang telah dilaksanakan seperti konferensi
kepala sekolah, pelatihan parenting untuk orang tua siswa, pelatihan kelas
literasi terpadu, pelatihan perencanaan pembelajaran berbasis literasi,
Pelatihan 5R berbasis lingkungan, optimalisasi komite sekolah, sharing media
pembelajaran, Display kelas, sharing menulis dan berbagai kegiatan pendampingan
lainnya. Selain itu, di setiap kelas model dibuat Display kelas yang menarik
dengan dukungan papan display dan Ceruk Ilmu (Reading Corner) yang berisi buku-buku penunjang pembelajaran untuk
membangkitkan minat belajar siswa dalam hal literasi.
Sejauh
ini sudah mulai muncul praktik-praktik baik yang dilakukan oleh kepala sekolah
dan guru termasuk guru model yang merupakan sasaran utama program ini.
Berdasarkan hasil Monitoring dan Evaluasi (MONEV I) yang dilakukan pada akhir
bulan ketiga, Kepala sekolah dan guru terlihat sudah mulai mengalami perubahan
pola pikir dan perilaku serta perubahan fisik bangunan sekolah dan ruangan
kelas yang didesain semenarik mungkin oleh
guru-guru agar terciptanya ruangan belajar yang kondusif. Selain itu, siswa yang
didampingi langsung oleh gurunya sudah mulai menumbuhkan kesadaran dan budaya
Literasi dengan melalui program-program yang dibuat di ceruk ilmu dan di
Perpustakaan.
Akhir
kata, Bahwa dalam membangun pendidikan akan lebih baik jika sekiranya ada
keterlibatan penuh dari semua pihak dan berbasis pada permasalahan-permasalahan
lokal untuk kemudian dicarikan solusinya secara bersama oleh para actor-aktor
lokal, salah satu caranya adalah dengan mengenalkan kemasan yang berbeda dan
menarik dari biasanya. Hal itulah yang kemudian dilakukan oleh Inovasi dan
kemitraannya dengan Dompet Dhuafa di kecamatan Hu’u Kabupaten Dompu.
Komentar
Posting Komentar