Bulan Mei selalu diwarnai
dengan perayaan-perayaan menarik, Hari buruh sedunia, hari pendidikan nasional,
Hari Lembaga Sosial Desa, Hari Wanadri dan lain-lain. Nah, pada kesempatan ini
kita tidak akan berbicara masalah nasib buruh atau yang lainnya, namun pada
kesempatan ini kita akan merefleksikan pendidikan ditengah kondisi negeri saat
ini. Tanggal 2 Mei merupakan titik awal kebangkitan pendidikan di Indonesia,
hal ini bertepatan dengan kelahiran sosok pejuang bangsa yaitu bapak Ki Hajar
Dewantara yang kita kenal sebagai pahlawan nasional yang memperjuangkan nasib
rakyat Indonesia untuk memperoleh pendidikan yang layak, sehingga pada tanggal
2 Mei diperingati oleh bangsa Indonesia sebagai Hari Pendidikan Nasional.
Perayaan HARDIKNAS setiap
tahunnya biasanya ditandai dengan perayaan berupa Upacara Bendera atau lomba-lomba
menarik lainnya, namun perayaan HARDIKNAS di tahun 2020 ini agak sedikit
berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Tahun ini Negara Indonesia dan seluruh Dunia
pada umumnya sedang dilanda musibah berupa pendemi COVID-19 yang mengharuskan
setiap orang hanya bisa beraktivitas di rumah saja, termasuk aktivitas
pendidikan. Pendemi ini menguji kemampuan bangsa Indonesia terutama yang
berkaitan dengan pendidikan, salah satu imbasnya di sektor pendidikan adalah semua
guru dipaksa untuk menjadi guru Millenial yang harus melek terhadap teknologi sehingga
guru diharapkan mampu menerapkan pendidikan jarak jauh (PJJ) atau kelas daring.
Keputusan pemerintah
untuk meliburkan sekolah dan mengganti ruang kelas ke dalam ruang virtual
mengakibatkan terjadinya Digitalisasi Pendidikan. Walaupun dalam pelaksanaanya aktivitas
pendidikan melalui daring ini masih mengalami kekacauan terutama bagi guru-guru
generasi Generasi X atau Babi Boomers (38-53 tahun >) dan guru-guru di
pelosok negeri yang minim akses teknologi dan internet. Namun Kondisi ini telah
memaksa semua pihak untuk belajar, menuntut semua pihak untuk melakukan hal-hal
baru yang sebelumnya hanya bisa menerapkan cara-cara konvensional.
Covid-19 ini cukup menyita waktu dan perhatian kita, rumitnya penanganan wabah ini membuat pemerintah, organisasi pendidikan, Organisasi masyarakat (NGO), komunitas dan seluruh elemen masyarakat dipaksa untuk terlibat dan turun tangan untuk memastikan proses belajar mengajar dan aktivitas pendidikan lainnya tetap bisa dilaksanakan. Salah satunya adalah lembaga kemanusiaan Dompet Dhuafa yang telah mencetuskan berbagai macam program menarik baik di bidang pendidikan, kebencanaan, kesehatan, ekonomi dan lain-lain. Kolaborasi dan kolektivitas adalah kunci untuk menghadapi kondisi saat ini, terutama kolaborasi dalam bidang pendidikan sangat penting dilakukan untuk memastikan aktivitas pendidikan tetap bisa dilaksanakan dengan baik.
Harapan besar saya
sebagai bagian dari generasi negeri ini, Momentum hari Pendidikan Nasional di
tengah Covid-19 ini adalah sebuah refleksi dan evaluasi bagi tubuh pendidikan
di Indonesia. Pendidikan harus menjadi perhatian bersama, bukan hanya tanggung
jawab guru dan sekolah namun semua pihak harus ikut ambil bagian dalam
menciptakan tatanan pendidikan yang baik dan bermutu untuk masa depan bangsa
yang lebih baik. Menjadi catatan penting adalah kondisi negeri akibat pendemi
COVID-19 ini menjadi dinamika dan transformasi digital di dunia pendidikan yang
akan mengubah mindset dan cara belajar kita di masa yang akan dating. So, keep learn, keep grow, stay helaty.

Komentar
Posting Komentar