Indonesia adalah
negera kepulauan berpanorama indah dan menawan, mimpi hidup di pesisir
membawaku kesini, ke pulau terdepan NKRI (Natuna). Tidak pernah saya bayangkan
sebelumnya akan menjalani kehidupan selama satu tahun di daerah pesisir
perbatasan. Desa Pulau Kerdau, itulah nama Desa dimana saya akan menempa diri
selama setahun. Pulau kerdau adalah bagian dari gugusan pulau-pulau kecil yang
berada di kecamatan Subi, pulau ini sangat kecil dan tanpa bukit, dengan Jumlah
penduduk sekitar 300 orang dari 71 kepala keluarga, untuk mengengelilingi pulau
ini hanya membutuhkan waktu 4-5 menit dengan menggunakan sepeda motor dan
sekitar 30 menit dengan berjalan kaki. Keindahan Pasir putih dan belantaran
hutan kelapa merupakan ciri khas pulau kecil ini. Di pulau ini hanya memiliki
satu sekolah yaitu SDN 005 Pulau Kerdau, dengan jumlah siswa sebanyak 28 orang
dalam satu sekolah. Sedangkan untuk melanjutkan sekolah ke jenjang menengah
anak-anak pulau kerdau setiap harinya harus menyebrang ke pulau sebelah (pulau
panjang) dengan jarak tempuh sekitar 30 menit dengan menggunakan perahu kayu.
Pertama kali saya
menginjakan kaki di pulau ini saya miris melihat kondisi pantai yang terkena abrasi,
karena di pulau ini tidak bisa ditumbuhi pohon bakau, jadi satu-satunya
alternatif adalah dengan membuat pemecah ombak. Kehidupan masyarakat pulau
kerdau sangat erat dengan kehidupan laut membentuk kulltur yang sangat kental
dengan nuansa bahari, masyarakat pulau kerdau sebagian besar berasal dari suku
laut, selebihnya adalah pendatang dari kalimantan dan anambas. Pulau kerdau
dikelilingi oleh beberapa gugusan-gugusan pulau kecil yang tidak berpenghuni
yang memilki pantai dan pemandangan bawah laut yang sangat indah, sebenarnya
sangat potensial untuk mengembangkan pariwisata, namun minim akses. Listrik di
pulau ini hanya menyala pada malam hari yaitu jam 6-10 malam.
Di Pulau Kerdau
atau umumnya di Natuna sendiri memiliki beberapa musim yaitu Musim angin utara,
musim angin selatan, musim angin timur dan musim angin barat. Musim angin utara
adalah musim angin kencang dan ombak besar yang terjadi pada bulan
November-April, menurut pak Rusmadi, salah seorang pengusaha kedai di Kerdau, pada
musim ini sering terjadi putus sembako karena kapal-kapal dari kalimantan dan
tanjung pinang tidak bisa beroperasi. Memasuki bulan Mei-Oktober cuaca kembali
stabil dan teduh, namun sangat panas pada siang dan malam hari.
Mayoritas penduduk
pulau ini bermata pencaharian sebagai nelayan baik nelayan bubu maupun nelayan
pancing dan sisanya sebagai petani kopra (Kelapa yang dikeringkan) dengan
memanfaatkan kelapa yang melimpah di pulau ini, masyarakat memanfaatkan hasil
laut untuk sumber kehidupan mereka, di pulau kerdau tidak bisa ditumbuhi
tanaman semacam sayuran dan buah-buahan karena kondisi tanah yang berpasir.
Semenjak saya ada di pulau ini, saya sangat jarang mengkonsumsi sayuran, sayuran hanya bisa
didapat dari pulau panjang atau dengan menunggu kapal dari kalimantan yang
singgah di pulau ini. Ketika ada kapal masuk dari kalimantan biasanya sangat
seru dan ramai, masyarakat berbondong-bondong membeli sambil berebut sayuran
dan buah-buahan yang dibawa oleh kapal tersebut.

Komentar
Posting Komentar