Dedikasi di pulau terdepan dan terluar membangun Negeri


Kita tidak perlu memperdebatkan siapa yang harus mengurusi, siapa yang harus bertanggunng jawab atas permasalahan pendidikan hari ini, kita cukup berpikir lalu berbuat untuk bangsa, bukan hanya sekedar meratapi. Kata kuncinya adalah kepekaan dan kepedulian, tentunya harus berupa tindakan, karena kepekaan tanpa tindakan adalah omong kosong. Saya selalu percaya bahwa perubahan tidak akan pernah datang dengan sendirinya tanpa dijemput dengan perjuangan. Berbicara masalah ikhtiar perubahan, maka pilihan menjadi pengajar muda bagi saya merupakan suatu kesempatan sekaligus kehormatan.

Setahun tinggal bersama rakyat di pulau terluar dan terdepan NKRI, menempa diri di pulau kecil tengah hamparan laut yang membujur sepanjang khatulistiwa, saya memilki keluarga baru, saudara baru dan tentunya semangat baru. Mungkin untuk sebagian besar orang menganggap ini adalah hal yang biasa dan mungkin saja aneh, mengambil keputusan untuk keluar dari zona nyaman menjadi relawan pendidikan selama setahun, tinggal di daerah perbatasan dengan segala keterbatasan.

Menajalani hidup sebagai pengajar muda di daerah terluar dan tertinggal mengajarkan saya tentang esensi perjuangan. Desa penempatan saya termasuk yang paling jauh berdasarkan jarak tempuhnya dibandingkan dengan tujuh orang kawan pengajar muda Natuna lainya. Untuk menuju desa penempatan, saya harus menjelajah antar pulau. Karena akses transportasi yang minim, terkadang saya harus bermalam di pulau kecamatan untuk menunggu tumpangan menuju desa dengan menggunakan perahu kayu atau yang biasa disebut pompong oleh masyarakat setempat. Tantangan geografis yang paling menantang adalah ketika hendak menyebrang pulau pada saat musim utara, dimana pada musim tersebut ombaknya sangat besar, sehingga membuat saya selalu gugup diatas pompong. Hal ini merupakan tantangan tersendiri bagi saya yang sebelumnya tidak terbiasa dengan perjalanan laut menggunakan perahu kecil. 

Melawan keterbatasan, yaa selama di desa saya dituntut untuk terbiasa dengan hal-hal baru yang menantang saya untuk melampaui batas diri. Saya tinggal bersama salah seorang guru di sebuah perumahan sekolah bekas sekolah lama yang terdiri satu ruangan tanpa kamar tidur dan kamar mandi (WC), listrik hanya bisa kami nikmati pada malam hari yaitu dari jam 6-10 malam. Jarak antara rumah dengan sekolah tidak terlalu jauh, bisa ditempuh dengan berjalan kaki di belantaran hutan kelapa. Bahasa yang digunakan sehari-hari adalah bahasa melayu, jadi untuk berkomunikasi bisa lebih adaptif walaupun saya hanya mengerti dari apa yang diucapkan namun belum bisa berkomunikasi secara fasih dengan bahasa mereka. Hal yang disyukuri adalah sudah banyak masyarakat yang sadar dan peduli terhadap pendidikan anaknya, hal tersebut ditandai dengan semakin kecilnya angka putus sekolah dan adanya beberapa anak yang melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi.

Tugas pengajar muda bukan hanya sekedar mengajar di sekolah, namun tugas lainnya adalah pengembangan masyarakat. Oleh karena itu, bersama beberapa orang pemuda desa kami berkolaborasi untuk merintis taman baca islami, mengingat setiap hari jum’at ada kegiatan edukasi keagamaan di desa yang melibatkan beberapa elemen masyarakat secara aktif untuk belajar, walaupun tidak bisa dipungkiri minat anak-anak muda desa masih lebih dominan ke bidang olahraga yaitu sepak bola dan bola Voli.


Komentar