Menempa diri sebagai persiapan mengabdi

Sebanyak 40 Orang pengajar muda angkatan XIII telah diberangkatkan pada akhir tahun 2016, yang terpilih dari 9.832 aplikan dengan proses seleksi yang panjang dan sangat selektif lewat empat tahap rekrutmen yaitu tes online, direct assessment, Medical check up, dan intensive training. Calon Pengajar Muda ini kemudian akan menjadi guru bantu di sekolah dasar (SD) dan penggerak masyarakat di daerah penugasan setelah selesai mengikuti pelatihan intensif selama 6-7 minggu oleh training officer Indonesia mengajar. 


Calon Pengajar Muda XIII Indonesia mengajar berasal dari seluruh indonesia dari berbagai perguruan tinggi negeri dan sawasta baik di dalam maupun di luar negeri dengan latar  belakang dan jenjang pendidikan yang berbeda-berbeda, mereka bukan saja dari background sarjana pendidikan namun kebanyakan dari mereka adalah dari non pendidikan. Saya sendiri adalah Sarjana pendidikan (S.Pd) Jebolan kampus Universitas Negeri Makassar (UNM) satu-satunya dari UNM yang lulus pada angkatan XIII ini, saya mengikuti Diresst Assessment di Makassar tepatnya di gedung Rektorat Universitas Hasanuddin dengan peserta Test bukan hanya dari Makassar namun dari berbagai daerah timur lainnya seperti Papua, Kalimantan, Maluku, NTB dan Sulawesi.  


Memasuki tahap pelatihan, 40 Calon pengajar muda angkatan XIII berkumpul untuk pertama kalinya di kantor Indonesia mengajar yang beralamat di Jl. Senayan Bawah No. 17 Jakarta. Para calon pengajar muda akan melaksanakan pelatihan intensif selama 7 Minggu yang digembleng dengan beberapa bidang Ilmu: Ilmu Pengajaran (pedagogi), Pendidikan Orang Dewasa (andragogi), kepemimpinan, dan seputar pendekatan indonesia mengajar. Pelatihan untuk angkatan XIII ini akan dilaksanakan di Wisma Indosat, Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat pada bulan Oktober-November 2016. 


Pelatihan intensif ini juga dirancang sebagai simulasi tantangan yang akan dihadapi di daerah penempatan nantinya, karena para pengajar muda tidak akan selalu marasakan hal yang bersifat suka semata, namun para pengajar muda akan dihadapkan pada permasalahan-permasalan yang kompleks dan dinamis. Oleh karenanya dalam pelatihan ada pembiasaan-pembiasaan berupa pembatasan listrik dan telpon, pembatasan menu makanan, dan juga jadwal yang dirancang sangat padat, dengan kata lain CPM dituntut untuk melatih dan menempa diri sebelum pemberangkatan ke daerah penempatan.


Minggu pertama pelatihan adalah masa adpatasi CPM dengan teman seangkatan dan lingkungan baru di sekitar tempat pelatihan, disini saya mengenal orang-orang hebat dengan latar belakang karir dan prestasi yang sangat luar biasa, sehingga saya merasakan berada diantara para bintang-bintang. Batapa tidak, mereka adalah orang-orang hebat yang berani keluar dari zona nyaman meninggalkan segala kenikmatan hidup di kota dan memilih berjuang dan berikhtiar untuk memperbaiki permasalahan pendidikan di pelosok-pelosok negeri. Oleh karena itu, Kesempatan untuk menjadi pengajar muda dan bisa bersama-sama berproses dengan mereka merupakan sebuah kehormatan besar bagi saya. Selain beradaptasi, di minggu pertama CPM belajar tentang pendekatan-pendekatan Indonesia Mengajar, Visi dan Misi, juga filosofi pelatihan.

Memasuki minggu kedua pelatihan, CPM dibekali dengan pelatihan fisik dan mental di Cihanjawar gunung  kabupaten Purwakarta oleh kelompok penempuh Rimba dan pendaki Gunung WANADRI. Dalam kegiatan ini 40 CPM XIII dibagi menjadi 5 Kelompok, dan setiap kelompok dipimpin oleh seorang komandan Regu (Danru) dan satu angkatan di pimpin oleh seorang Komandan Kelas (DANLAS), Kebetulan yang dipercayai untuk menjadi komandan kelas pada saat itu adalah saya sendiri. Kegiatan pelatihan Fisik dan mental ini bertujuan untuk melatih kekompakan tim dan bertahan hidup dalam kondisi apapun. Di minggu ini, beragam materi diberikan seperti intervensi sosial, basic fasilitator, stress management, dan berbagai materi lainnya, selain itu berbagai materi lainya dibekali oleh FLIP Consulting. Materi-materi yang disampaikan oleh FLIP sangat menyenangkan, ini adalah pengalaman pertama saya mengikuti pelatihan dengan penyampaian materi yang berbeda dan tetap menyenangkan.

 
Di minggu ketiga beragam materi pedagogis mulai diberikan, para CPM mulai dibekali dengan materi yang berkaitan dengan pendidikan dan pembelajaran kreatif di sekolah, sperti filosofii pendidikan, kurikulum dan administrasi pendidikan, belajar kreatif, dan membuat media pembelajaran kreatif dari barang bekas. Sebanyak 40 CPM dibagi ke dalam tiga kelompok untuk persiapan kegiatan bersama yaitu Kegiatan bersama masyarakat, Kegiatan belajar dan bermain, dan Fun Night. Saya sendiri lebih tertarik untuk bergabung kedalam kelompok panitia kegiatan bersama Masyarakat (KBM) yang akan dilaksanakan akhir minggu ini di desa sekitaran camp pelatihan. Akhir minggu ini setelah melaksanakan kegiatan bersama masyarakat, ada momentum yang kami tunggu-tunggu yaitu pengumuman kabupaten penempatan. Pada moment ini saya akan mengetahui dimana saya akan menempa diri selama 12 purnama ke depan dan siapa saja yang akan menjadi kawan satu tim saya di kabupaten penempatan. 


Saat yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga, selama 40 CPM XIII dikumpulkan di ruang ibadah camp untuk diberikan sedikit cerita dan dokumentasi seputar daerah penempatan. Saya tiba-tiba merinding dan meneteskan air mata ketika melihat sekilas dokumentasi tentang potret pendidikan di daerah penempatan. Setelah itu kami diinstruksikan untuk menutup mata dengan menggunakan selembar kain merah putih kemudian digiring ke suatu tempat dan dibentuk lingkaran kecil, setelah beberapa saat berdiri sembari menangis mendengar backsong lagu tanah airku, kamipun disuruh untuk membuka penutup mata dan ternyata ada tulisan daerah penempatan di tengah lingkaran kecil tersebut, pada saat itu pula dengan rasa haru saya melihat di kiri dan kanan saya kawan-kawan satu kabupaten penempatan. Untuk lebih jelasnya melihat keseruan momentum pengumuman daerah penempatan CPM XIII, silahkan buka youtube dan Facebook Indonesia mengajar. 


Memasuki minggu keempat para CPM Mulai melakukan kunjungan sekolah, 40 CPM terbagi dalam dua kelompok untuk masing-masing melakukan kunjungan ke SD Semi Palar dan SD Harapan Bunda yang berlokasi di Kota Bandung. Saya sendiri berada dalam kelompok yang melakukan kunjungan ke SD Semi Palar, di sekolah ini kami belajar banyak hal dengan berinteraksi langsung dengan seluruh warga sekolah. Selain itu, dalam minggu ini para CPM melakukan kelas simulasi mengajar (Microteaching) yang di laksanakan di beberapa gedung di Wisma Indosat, dalam kegiatan ini CPM terbagi ke dalam 4 kelompok. Serunya, setiap orang akan dihadapkan dengan kondisi kelas yang berbeda-beda. Akhir minggu keempat ini kami melakukan observasi sekolah sebagai persiapan untuk praktek pengalaman mengajar (PPM) dan melaksanakan kegiatan Fun night, dalam kegiatan fun night saya ditunjuk untuk bermain drama bersama beberapa kawan, kalau boleh jujur ini adalah pengalaman pertama saya dan atas dasar menghargai proses saya memberanikan diri untuk menerima tantangan tersebut. 


Setelah menjajal kesempatan dalam kelas simulasi (microteaching), para CPM harus berdiri di depan kelas sungguhan dalam kegiatan praktik pengalaman mengajar (PPM) yang dilaksanakan di 16 SD yang tersebar di kabupaten Purwakarta. Dalam pelaksanaaan PPM, para CPM XIII dibawah bimbingan 16 orang asesor pedagogis yang berasal dari sekolah-sekolah unggulan di Bandung dan Jakarta. Setelah melaksanakan kegiatan PPM selama empat hari, para CPM dikelompokkan berdasarkan berdasarkan kabupaten penempatan masing-masing untuk melaksanakan kegiatan Fun day dengan tujuan untuk membangun sinergitas dan keakraban antar CPM. Materi pedagogi berlanjut di sesi kegiatan belajar dan bermain (KBB) yang dilaksanakan akhir pekan ini bersama sekitar 200 anak-anak yang berasal dari sekolah sekitaran camp pelatihan. 


Minggu keenam atau minggu terakhir pelatihan ditutup dengan latihan bertahan hidup di dalam kondisi yang terbatas (Survival) yang dilaksanakan di cihanjawar Gunung Kabupaten Purwakarta selama empat hari dibawah binaan para kelompok penempuh Rimba dan pendaki Gunung WANADRI. Para CPM XIII dikelompokkan dalam berdasarkan daerah penempatan masing-masing untuk membentuk karakter dan menguatkan kerja tim. Dalam kegiatan ini banyak pelajaran berharga yang kami dapat dalam melawan keterbatasan, mulai dari makanan, tempat tinggal, dan urgensi kolektifitas. Kegiatan ini ditutup dengan acara pengukuhan langsung oleh direktur utama Gerakan Indonesia mengajar Ibu Evi Trisna, dengan rasa haru dan bangga masing-masing CPM XIII mengucapkan janji untuk mengabdi kepada ibu pertiwi. Setelah dikukuhkan, kami resmi menjadi Pengajar Muda (PM XIII) yang sebelumnya bersatatus sebagia Calon pengajar muda (CPM) XIII. Yeeae...-:)  


Dengan tuntasnya pelatihan intensif PM XIII, Pengajar muda XIII diberangkatkan ke ke lima kabupaten penempatan yaitu Aceh Utara, Natuna (Kepulauan Riau), Nunukan (Kalimantan Utara), Banggai (Sulawesi Tengah) dan Pegunungan Bintang (Papua). Selamat bertugas kawan-kawan, “Tempa Diri, Lampaui Batas”.

Komentar