Akhir bulan November 2016, Sebanyak 40 orang pengajar muda angkatan XIII Indonesia mengajar telah resmi dikukuhkan dan selanjutnya ditempatkan ke 5 kabupaten penempatan mulai dari Aceh Utara, Natuna, Nunukan, Banggai, dan Pegunungan Bintang.
Saya sendiri ditempatkan di salah satu kabupaten kepulauan yang merupakan Pulau terdepan NKRI yaitu kabupeten Natuna bersama 7 orang kawan saya yang berasal dari berbagai daerah dan kampus yang berbeda.
Bukan halnya seperti konsep KKN yang hidupnya bersama-sama dalam satu kelompok, kami berdelapan akan disebar di 8 desa terpencil di kabupaten Natuna dengan jarak yang cukup jauh antara satu dengan yang lainnya. Empat orang kawan saya ditempatkan di Pulau bunguran (Natuna Besar) dan satu orang mandapat tugas di pulau tiga, sedangkan saya bersama dua orang kawan ditempatkan di tiga Pulau berbeda yang berlokasi Natuna Selatan yang berjarak tempuh sekitar 15 Jam dari Ranai (Natuna Besar) dengan menggunakan kapal motor (KM) untuk sampai pelabuhan Serasan, dari pelabuhan Serasan kami bertiga berpencar menuju desa masing-masing, kedua kawan saya langsung dijemput oleh kepala sekolahnya masing-masing karena memang jaraknya tidak terlalu jauh dari pelabuhan, sedangkan Saya sendiri harus menginap satu malam dulu di pulau Serasan untuk menunggu pompong (motor laut) yang menuju desa penempatan saya dengan jarak tempuh 2-3 Jam.
Desa Pulau Kerdau, itulah nama Desa dimana saya akan menempa diri selama satu tahun ke depan. Desa pulau kerdau merupakan salah satu desa di kecamatan Subi yang berada di pulau mungil KERDAU, Untuk mengengelilingi pulau ini hanya membutuhkan waktu 4-5 menit dengan menggunakan sepeda motor dan 30 menit dengan berjalan kaki karena pulau ini hanya berjarak 3 Km. Pulau ini dikelilingi oleh pasir putih dan belantaran hutan kelapa dengan jumlah penduduk sekitar 300 orang dari 71 kepala keluarga.
Di pulau ini hanya memiliki satu sekolah yaitu SDN 005 Pulau Kerdau, dengan jumlah siswa sebanyak 30 orang dalam satu sekolah. Selain melaksanakan kegiatan edukasi di sekolah, anak-anak di pulau kerdau juga sangat aktif mengikuti kegiatan ekstrakurikuler, les tambahan di sore hari, dan kegiatan TPA di setiap hari Selasa dan Kamis sore.
Pertama kali saya menginjakan kaki di pulau ini saya miris melihat kondisi pantai yang terkena Abrasi, karena di pulau ini tidak bisa ditumbuhi pohon bakau, jadi satu-satunya alternatif adalah dengan membuat pemecah ombak. Pulau ini sangat Sepi pada siang harinya, para pemuda dan masyarakat disini sibuk melaut karena ketika saya pertama datang di pulau ini adalah pada saat musim angin dan gelombang kuat jadi ikan tangiri lebih mudah didapat.
Di Pulau Kerdau atau umumnya di Natuna sendiri memiliki beberapa musim yaitu Musim angin utara, musim angin selatan, musim angin timur dan musim angin barat. Musim angin utara adalah musim angin kencang dan gelombang besar yang terjadi pada bulan November-April, menurut pak Rusmadi, salah seorang pengusaha kedai di Kerdau pada musim ini sering terjadi putus sembako karena kapal-kapal dari kalimantan dan tanjung pinang tidak bisa beroperasi.
Mayoritas penduduk pulau ini bermata pencaharian sebagai nelayan dan sisanya sebagai petani kopra (Kelapa yang dikeringkan), masyarakat memanfaatkan hasil laut untuk sumber kehidupan mereka, di sini tidak bisa ditumbuhi tanaman semacam sayuran dan buah-buahan karena kondisi tanah yang berpasir. Semenjak saya ada di pulau ini, saya sangat jarang mengkonsumsi sayuran, sayuran hanya bisa didapat dari pulau sebelah, pulau panjang atau dari kapal dari kalimantan yang singgah di pulau ini. Ketika ada kapal masuk dari kalimantan biasanya sangat seru dan ramai, masyarakat berbondong-bondong membeli sambil berebut sayuran dan buah-buahan yang dibawa oleh kapal tersebut.
Setelah beberapa bulan saya disini, banyak hal-hal baru yang saya rasakan dan saya pelajari, disini saya hidup bersama keluarga angkat, setiap minggu pagi saya selalu dijemput oleh anak-anak untuk berkarang (berjalan di air laut yang kering), mandek masen (berenang di laut) dan ngedik (memancing) dengan menggunakan jukong (perahu kecil) keliling pulau mungil ini. Anak-anak dan masyarakat selalu mengenalkan saya dengan hal-hal baru, hal-hal yang tidak pernah saya jumpai dan rasakan sebelumnya kerena memang saya besar dan tumbuh di daerah yang jauh dari laut. Ini adalah kesempatan saya untuk mengenal indonesia seutuhnya melaui dunia bahari, budaya dan keanekaragaman hayati yang ada di daerah ini.
Komentar
Posting Komentar