Oleh : Muhammad Rustam
Menjadi pengurus lembaga kemahasiswaan merupakan sebuah pilihan sekaligus panggilan moral. Tidak semua orang mampu melakoninya, apalagi mengahiri pilihannya tersebut dengan indah dan penuh prestasi. Menjadi pengurus lembaga kemahasiswaan harus siap (mental) menerima kritikan. Sebab kalau tidak, mereka akan dilindas oleh kekerdilan jiwa mereka sendiri. Tidklah menjadi sebuah keheranan ketika mereka teramat dekat dengan pengambil kebijakan kampus (Birkrasi), namun yang menjadi problem jika kedekatan itu terjalin karena hitung-hitungan PRAGMATIS, maka bersiap-siaplah dicap sebagai PENJILAT. Pengurus lembaga kemahasiswaan terkadang menjadi tersanjung bila dipanggil rapat di tempat-tempat mewah, tanpa harus menganalisa lebih awal, ada apa di balik itu semua.
Ada apa dengan lembaga kemahasiswaan kita hari ini? Mungkin pertanyaan itu bercokol angkuh dalam akal sehat kita. Pertanyaan tersebut merupakan sebuah bentuk keresahan terhadap lemahnya (bukan MANDUL ) lembaga-lembaga kemahasiswaan kita dalam mengawal isu-isu Kampus, serta isu regional maupun nasional. Kenyataan ini seolah memaksa kita untuk mengambil sebuah kesimpulan, bahwa hampir semua lembaga kemahasiswaan kita hari ini mengalami DISORIENTASI. Bahkan yang cukup mencengangkan lagi adalah, lembaga kemahasiswaan kita cenderung menjadi anjing penjaga (Watch Dog) kekuasaan. Ketidak berdayaan lembaga mahasiswa kita hari ini, seolah menjadi pembenaran atas melemahnya gerakan mahasiswa. Lalu dimanakah mereka yang mengatas namakan dirinya AKTIVIS Kampus yang konon katanya sebagai singa dalam mengawal segala bentuk kebijakan dan isu
-isu yang bertentangan dengan mahasiswa dan masyarakat. Para pimpinan lembaga kemahasiswaan fakultas maupun jurusan mungkin sedang disibukkan dengan kegiatan tawar menawar dengan pemangku kebijakan kampus dan instansi lainnya ataukah mereka sedang dilematis ketika dihadapkan dengan kondisi Realitas lalu menjual idealisme dengan mengatas namakan mahasiswa ?. Jika demikian, sungguh menjijikan dan patut kita sayangkan.
Idealisme adalah kekakayaan terbesar yang dimiliki oleh pemuda /mahasiswa (Tan Malaka).
Bisa dikatakan bahwa lembaga kemahasiswaan kita hari ini mengalami kelelahan IDEALISME, Pasca reformasi 1998, gerakan mahasiswa mengalami tidur yang teramat panjang dan sesekali berkompromi dengan penguasa.Salah satu Fungsi mahasiswa yang sering diajarkan dala setiap jenjang pengkaderan yaitu Moral Of Force (Kekuatan moral) tidak lagi menjadi roh bagi setiap gerakan mahasiswa, seperti kerap terjadi di kalangan kita pada hari ini, Ego Sektoral yang sangat tinggi membuat kita merasa sangat kesulitan untuk membentuk sebuah gerakan kolektif, bersatu dan berteriak lantang untuk merobohkan setan-setan yang berdiri mengangkang. Implikasinya kita lantaran merasa mati rasa dan tidak mampu berbuat banyak untuk mahasiswa. Kita juga teramat sulit berkumpul bersama di depan pintu satu sekedar meneriakan keresahan walau hanya sesekali. Selain kelelahan IDEALISME masalah lain yang sering timbul dalam lembaga kemahasiswaan adalah minimnya kesadaran kritis mahasiswa, akibatnya mahasiswa terseret arus yang begitu kuat yang berada diluar diri, yakni kapitalisme global yang hadir dalam bentuk kesenangan semu (hedonisme).
Disorientasi yang terjadi di kalangan lembaga kemahasiswaan berimplikasi pada pergeseran ideologi para pengurus lembaga kemahasiswaan yang berparas idealis dan MUNGKIN saja berhati pragmatis, Hal tersebut bisa dilihat dari fenomena menarik yang terjadi di kalangan pengurus-pengurus lembaga kemahasiswaan kita akhir-akhir ini. Sebut saja kebiasaan dari sebahagian mereka dalam menyelesaikan atau perbincangan tentang kemahasiswaan justru terbangun dari KAFE-KAFE. Hal ini mengingatkan saya pada para pengurus-pengurus partai, dimana negosiasi politik lebih banyak terbangun dari kafe-kafe. Hal ini TIDAK SALAH, dan tidak ada pula yang melarang namun yang menjadi masalah jika wacana kemahasiswaan terlalu sering didiskusikan di kafe-kafe, maka wacananya pun menjadi bersifat elitis. Fenomena-fenomena tersebut di atas (meminjam istilahnya Alwi Rahman) yang ditengarai sebagai perilaku BORJUIS IMUT-IMUT di kalangan mahasiswa. Fenomena lain adalah melemahnya bahkan matinya budaya LITERASI, yang dimaksud dengan budaya literasi adalah budaya membaca, berdiskusi, mengkaji dan AKSI, justru yang muncul adalah budaya COC yang seringkali terbangun di sudut-sudut kampus dan di ruang-ruang kelas. Kembali lagi, hal tersebut bukanlah sebuah kesalahan dan tidak ada yang menyalahkan karena didalam diri manusia terdapat kebebasan individu, namun keasadaran kritis dan eksistensinya sebgai kaum intelektual yang beradap, itulah yang dipertanyakan.
Masalah lain yang seringkali muncul adalah budaya kaderisasi yang semakin menumbuhkembangkan arogansi dan ego sektoral di setiap lembaga kemahasiswaan. Sebagai contoh, ruang dielektika antara sesama lembaga kemahasiswaan justru hampir tidak menemukan ruangnya. Sehingga menyebabkan munculnya jurang pembatas antara lembaga kemahasiswaan yang satu dengan yang lainnya teramat jauh. Boleh jadi hal ini muncul dari ruang pengkaderan kita yang cenderung organtif serta doktrin lembaga yang teramat kebablasan. Ruang pengkaderan yang saya maksud bukan saja terjadi di kegiatan pengkaderan Formal namun yang lebih mendogma adalah pengkaderan non formal yang sering kali terjadi di sudut-sudut kampus dan di kantin-kantin dengan melakukan interaksi doktrinasi antara senior dan junior. Lantas siapa yang disalahkan dalamhal ini ? Mungkinkah lembaga-lembaga mahasiswa gagal melakukan transformasi nilai dalam setiap jenjang pengkaderan? Ataukah sebaliknya, para mahasiswanya yang kesulitan menerima apa yang disuapi senior-seniornya dalam ruang-ruang pengkaderan ?. Atau jangan-jangan kita lupa diri tentang eksistensi kita, dan akhirnya terbawa arus oleh kepentingan individu dan kelompok yang mengatasnamakan mahasiswa dan lembaga kemahasiswaan ? tertentu Rasa-rasanya masih banyak pertanyaan nakal yang muncul dalam kepala kita masing-masing..
Luar biasa....
BalasHapus