DEDIKASI DI PULAU TERDEPAN DAN TERLUAR MEMBANGUN NEGERI
Setahun tinggal
bersama rakyat di pulau terluar dan terdepan NKRI, menempa diri di pulau kecil
tengah hamparan laut yang membujur sepanjang khatulistiwa, saya memilki
keluarga baru, saudara baru dan tentunya semangat baru. Mungkin untuk sebagian
besar orang menganggap ini adalah hal yang biasa dan mungkin saja aneh, mengambil
keputusan untuk keluar dari zona nyaman menjadi relawan pendidikan selama
setahun, tinggal di daerah perbatasan dengan segala keterbatasan.
Menajalani hidup
sebagai pengajar muda di daerah terluar dan tertinggal mengajarkan saya tentang
esensi perjuangan. Desa penempatan saya termasuk yang paling jauh berdasarkan
jarak tempuhnya dibandingkan dengan tujuh orang kawan pengajar muda Natuna
lainya. Untuk menuju desa penempatan, saya harus menjelajah antar pulau. Karena
akses transportasi yang minim, terkadang saya harus bermalam di pulau kecamatan
untuk menunggu tumpangan menuju desa dengan menggunakan perahu kayu atau yang
biasa disebut pompong oleh masyarakat
setempat. Tantangan geografis yang paling menantang adalah ketika hendak
menyebrang pulau pada saat musim utara, dimana pada musim tersebut ombaknya
sangat besar, sehingga membuat saya selalu gugup diatas pompong. Hal ini merupakan tantangan tersendiri bagi saya yang
sebelumnya tidak terbiasa dengan perjalanan laut menggunakan perahu kecil.
Melawan
keterbatasan, yaa selama di desa saya dituntut untuk terbiasa dengan hal-hal
baru yang menantang saya untuk melampaui batas diri. Saya tinggal bersama salah
seorang guru di sebuah perumahan sekolah bekas sekolah lama yang terdiri satu
ruangan tanpa kamar tidur dan kamar mandi (WC), listrik hanya bisa kami nikmati
pada malam hari yaitu dari jam 6-10 malam. Jarak antara rumah dengan sekolah
tidak terlalu jauh, bisa ditempuh dengan berjalan kaki di belantaran hutan
kelapa. Bahasa yang digunakan sehari-hari adalah bahasa melayu, jadi untuk
berkomunikasi bisa lebih adaptif walaupun saya hanya mengerti dari apa yang
diucapkan namun belum bisa berkomunikasi secara fasih dengan bahasa mereka. Hal
yang disyukuri adalah sudah banyak masyarakat yang sadar dan peduli terhadap
pendidikan anaknya, hal tersebut ditandai dengan semakin kecilnya angka putus
sekolah dan adanya beberapa anak yang melanjutkan pendidikan di perguruan
tinggi.
Tugas pengajar muda
bukan hanya sekedar mengajar di sekolah, namun tugas lainnya adalah
pengembangan masyarakat. Oleh karena itu, bersama beberapa orang pemuda desa
kami berkolaborasi untuk merintis taman baca islami, mengingat setiap hari jum’at
ada kegiatan edukasi keagamaan di desa yang melibatkan beberapa elemen
masyarakat secara aktif untuk belajar, walaupun tidak bisa dipungkiri minat anak-anak
muda desa masih lebih dominan ke bidang olahraga yaitu sepak bola dan bola
Voli.

Komentar
Posting Komentar