Menghidupkan Budaya Literasi SDN 005 Pulau Kerdau
Pada umumnya anak-anak sangat menyukai buku-buku cerita, terlebih jika buku itu adalah buku cerita singkat bergambar, sehingga tidaklah heran jika buku-buku sejenis itu cepat terlihat kusam di perpustakaan karena sering di serbu oleh anak-anak. Perpustakaan SDN 005 Pulau Kerdau memiliki koleksi buku yang yang cukup menarik dan berkualitas namun sayangnya kebanyakan dari siswa seringkali hanya meminjam buku yang bergambar. Buku-Buku tebal biasanya menjadi monster yang menakutkan bagi mereka terlebih anak-anak kelas rendah yang masih dalam tahap perkembangan imajinasi.
Pada umumnya anak-anak sangat menyukai buku-buku cerita, terlebih jika buku itu adalah buku cerita singkat bergambar, sehingga tidaklah heran jika buku-buku sejenis itu cepat terlihat kusam di perpustakaan karena sering di serbu oleh anak-anak. Perpustakaan SDN 005 Pulau Kerdau memiliki koleksi buku yang yang cukup menarik dan berkualitas namun sayangnya kebanyakan dari siswa seringkali hanya meminjam buku yang bergambar. Buku-Buku tebal biasanya menjadi monster yang menakutkan bagi mereka terlebih anak-anak kelas rendah yang masih dalam tahap perkembangan imajinasi.
Tata kelola
perpustakaan SDN 005 Pulau Kerdau baru terbentuk dua tahun terakhir ini, hal
tersebut merupakan hasil inisiasi Pengajar Muda pertama bersama dengan
guru-guru lokal. Memasuki tahun kedua, PM kembali diberikan amanah untuk
mengelola perpustakaan. Pengajar Muda menyadari bahwa kesadaran untuk
menumbuhkan minat baca harus dimulai sejak dini, oleh karena itu salah satu
langkah yang dilakukan adalah dengan menerapakan pembiasaan membaca buku 15
sebelum masuk kelas. Selain itu, hal lain yang dilakukan oleh pengajar muda
dalam meningkatkan minat baca siswa adalah dengan menerapakan duta perpustakaan
bagi siswa yang rajin meminjam dan membaca buku di perpustakaan. Duta
perpustakaan akan diumumkan setiap akhir bulan berdasarkan hasil penilaian dari
buku catatan peminjaman dan buku pengunjung perpustakaan.
Minat baca
anak-anak SDN 005 Pulau Kerdau sebenarnya sangat tinggi, terlebih jika ada
buku-buku baru yang masuk di perpustakaan biasanya mereka langsung menyerbu
perpustakaan dengan inisiatif mereka sendiri. Intinya adalah pendampingan dan
memberikan teladan yang baik, anak-anak akan lebih senang mengunjungi
perpustakaan jika guru atau pengajar muda juga sering melakukan aktivitas
literasi di perpustakaan seperti membaca atau sesekali mendongeng, dengaan
adanya pendampingan anak-anak akan lebih mudah menanyakan hal-hal yang mereka
belum pahami dari bahan bacaannya.
Buku tebal bukan
lagi monster yang menakutkan lagi untuk beberapa siswa, sebut saja salah
seorang siswa yang bernama Hamid Rizal, siswa kelas VI yang satu ini sudah
mulai tertarik dengan buku-buku novel
atau buku-buku bacaan pengajar muda di perpustakaan. “Pak, pak kalau
sudah selesai baca kasih tau hamid ya, hamid mau minjam” pinta hamid.
Menyenangkan sekali rasanya melihat mereka pagi-pagi sudah mulai menyerbu
perpustkaan, menyempatkan diri membaca di sela-sela waktu istirahat, saling
pamer tentang buku yang dibaca, berebut meminjam dan membaca beberapa buku yang
mereka anggap buku faforit, dan selalu bertanya jika ada hal yang belum mereka
pahami.
Belajar bisa
dimanapun, tidak hanya terpaku dalam ruang kelas semata. Selain mengembangkan
minat baca di sekolah, pengajar muda dengan hasil kolaborasinya dengan pemuda
desa juga menginisiasi sebuah taman Baca Islam (TBI) Nurul Ilmi, yang masih
bertempat di masjid Nurul bahari Pulau kerdau untuk sementara waktu. Inisisatif
ini lahir atas dasar kesadaran akan pendidikan terutama pendidikan agama di
desa. Koleksi buku di TBI Nurul Ilmi belum terlalu banyak, namun semenjak ada
beberapa buku bacaan di masjid anak-anak sudah semakin termotivasi untuk ke
masjid dan menyempatkan diri membaca di sela-sela waktu Magrib dan Isa.


Komentar
Posting Komentar